Bulan Juni ini kayaknya emang paling asyik cerita-cerita soal sepakbola. Secara emang penggila bola lagi pada party di bulan ini, so gak ada salahnya juga kalo posting kali ini juga tentang sepak bola. Tenang.. tenang.. bukan aq kok yang nulis, tapi seorang yang emang udah gape nulis, namanya Sean Wilsey, aq ambil dari sebuah artikel di majalah National Geographic Indonesia edisi Juni 2006 adaptasi dari The Thinking Fan’s Guide to the World Cup. Baca deh, dijamin keren! Beneran…!
Seiring berlangsungnya Piala Dunia di Jerman bulan ini, Anda dapat berharap seolah-olah berada di surga selama satu bulan. Sebabnya, Piala Dunia merupakan satu-satunya acara olahraga internasional yang sejati di planet ini karena Olimpiade-meskipun memiliki beragam cabang olahraga elit-tidaklah memiliki makna yang sama.
Itulah yang saya lakukan. Dunia Piala Dunia adalah dunia di mana saya ingin hidup. Ada arak-arakan kebesaran beridealisme tinggi, pameran berbagai karakter bangsa tanpa tendensi politik, penyingkapan berbagai kelemahan dan kehebatan menusia yang tidak terduga. Ada pula fakta bahwa sebagian besar pekerja di negara mana pun sampai tidak bekerja atau bangun pada pukul tiga dini hari untuk menyaksikan sekumpulan pria menendang sebuah bola. Ada negara-negara yang memiliki multiras-Prancis, Inggris, dan Amerika Serikat-sementara pemain tim-tim lainnya seluruhnya berambut pirang, atau orang Asia, atau orang Amerika Latin.
Penjual ban asal Slovakia, polisi asal Italia, atau pianis konser asal Jerman-jika lulus tes resmi-akan bekerja sampingan sebagai wasit. Ada suporter yang menjengkelkan. Ada anak-anak yang bergandengan tangan dengan pemain saat berjalan memasuki lapangan. Lagu kebangsaan dikumandangkan. Para suporter mewarnai diri dengan warna-warna nasionalnya dan menangis tanpa malu-malu saat kalah. Komentator berteriak “GOOOOOOOOOLLLLLLLL! GOL, GOL, GOL!” di saluran berbahasa Spanyol yang saya tonton. (Seringkali ini satu-satunya cara untuk menyaksikan pertandingan secara langsung). Terdapat dua babak yang masing-masing lamanya 45 menit tanpa dipotong iklan.
Mengutip yang tertulis di buku Soccer and Its Rules milik saya: “Apakah Anda sudah siap?” Siap untuk menyemangati para pemain agar menang, mengagumi kebugaran, kecepatan, dan keahlian mereka, mendorong mereka untuk selalu memenangi perebutan bola, siap untuk meluapkan kegembiraan saat ada tendangan bertenaga? Siap untuk kehebohan saat ada penyerang sayap yang sigap, bek yang ikut menyerang, tendangan penjuru yang melengkung, umpan satu-dua yang cepat dan gol-gol yang disarangkan dengan flamboyan? Siap untuk momen lainnya di sebuah dunia fantasi? Saya siap.
Popularitas sepak bola yang mendunia tidaklah mengejutkan jika kita tengok kembali apa yang selalu memotivasi umat manusia: uang dan Tuhan. Tentu sepak bola melibatkan uang dalam jumlah besar. Klub sepak bola (seperti kapitalisme) pada dasarnya adalah hasrat kekanak-kanakan untuk mewujudkan impian, tanpa mempedulikan biayanya. Mereka yang memiliki cukup uang akan memadukan penyerang terbaik asal Brasil, pemain tengah dari Belanda, pemain bertahan dari Inggris, dan penjaga gawang dari Jerman serta mengirim tim ini untuk bertanding melawan tim gabungan milik para miliuner lainnya. Sebuah situasi tidak adil, gambaran sebagian besar dunia saat ini. Namun, di dalam sepak bola juga terdapat keindahan dan misteri.
Apa arti sepak bola jika seperti selayaknya suatu agama? Secara universal dan khusus, ia adalah sumber tak terbatas dari persediaan harapan yang dapat diperbaharui. Ia terkadang menakjubkan dan diatur secara sederhana oleh peraturan-peraturan yang tidak bertentangan dan dapat dimengerti semua orang. Hukum sepak bola adalah hukum kesetaraan, tanpa kekerasan dan pengendalian. Hukum itu bebas untuk ditafsirkan kembali sesuai kebijaksanaan wasit yang adil. Keputusan akhir wasitlah yang berlaku, tanpa mempedulikan bahwa kemungkinan keputusan itu menyalahi peraturan (tidak adil). Buku peraturan resmi milik saya secara rinci menyajikan ke-17 hukum sepak bola, lalu menyimpulkan bahwa wasit dapat mengesampingkan semuanya supaya hal yang agak abstrak-disebut semangat fair play-dapat diterapkan.
Perasaan bahwa sepak bola lebih dari sekedar permainan, kian mendalam ketika Piala Dunia diselenggarakan. Tim-tim dari seluruh penjuru dunia berkumpul untuk memperebutkan Piala Dunia. Seperti pada perang Salib, negara tuan rumah umumnya sukses pada Piala Dunia. Ada kekuatan aneh sehingga tim-tim tuan rumah bermain lebih baik daripada daripada kemampuannya di atas kertas. Mereka mengalahkan tim-tim kuat, seakan faktor tuan rumah mempengaruhi kekuatan untuk bertanding, membuat bola seolah dapat dimainkan seperti yang diinginkan, membawanya kepada kesimpulan yang tidak terhindarkan, Tuhan mendampingi mereka.
Sepak bola, seperti agama, dapat memancing kekerasan. Namun sepak bola juga terbukti mampu menjembatani berbagai perbedaan dan mengatasi kebencian pada ras tertentu. Fakta bahwa Piala Dunia dapat diselengarakan di Korea Selatan dan Jepang, seperti pada 2002, merupakan sebuah kemenangan bagi toleransi dan rasa pengertian. Kurang dari setengah abad, Korea Selatan telah berubah. Saat babak kualifikasi Piala Dunia 1954, Korsel tidak mengizinkan tim nasional Jepang melintasi perbatasannya untuk bertanding, tetapi pada 2002 justru menjadi tuan rumah turnamen ini bersama-sama negeri yang pernah menjajahnya itu. Berilah dunia waktu 50 tahun lagi dan kita mungkin menyaksikan Piala Dunia diselenggarakan di Israel dan Palestina.
Kenapa tidak? Sifat universal sepak bola terletak pada kesederhanaannya. Permainan ini dapat dimainkan di mana saja dengan apa saja. Sepak bola saat ini dapat dijadikan keyakinan. Mungkin ia tidak dapat memberikan kepuasan spiritual, tetapi tidak diperalat untuk menutupi sesuatu.
Permainan indah ini-sebut saja perpaduan bisnis dan agama-akan mencapai titik paling menakjubkan pada bulan ini di Piala Dunia pertama yang diselengarakan di Jerman bersatu. Dan yang membuat Piala Dunia jadi sangat indah adalah dunia, kita semua, dalam satu kebersamaan. Kebahagiaan miliaran orang atau lebih menjadi satu saat menyaksikan 32 negara terikat oleh 17 peraturan. Hal itu membuat saya dipenuhi keyakinan kuat, walau mungkin tak teruji, bahwa sepak bola dapat menyatukan kita semua.
0 Comments:
Post a Comment
<< Home